Tugas Makalah – AKUNTANSI ASURANSI SYARIAH

AKUNTANSI ASURANSI SYARIAH

 

Oleh :

Siti Sarahadi

FAKULTAS EKONOMI
JURUSAN AKUNTANSI

UNIVERSITAS ISLAM AZ-ZAHRA

2013


PEMBAHASAN

 

Pengertian Akuntansi

Akuntansi adalah suatu proses mencatat, mengklasifikasi, meringkas, mengolah dan menyajikan data, transaksi serta kejadian yang berhubungan dengan keuangan sehingga dapat digunakan oleh orang yang menggunakannya dengan mudah dimengerti untuk pengambilan suatu keputusan serta tujuan lainnya. Akuntansi berasal dari kata asing accounting yang artinya bila diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia adalah menghitung atau mempertanggungjawabkan. Akuntansi digunakan di hampir seluruh kegiatan bisnis di seluruh dunia untuk mengambil keputusan sehingga disebut sebagai bahasa bisnis.

Akuntansi modern

 

Prinsip inti akuntansi keuangan modern ada pada sistem pembukuan berpasangan. Sistem ini meliputi pembuatan paling tidak dua masukan untuk setiap transaksi: satu debit pada suatu akun, dan satu kredit terkait pada akun lain. Jumlah keseluruhan debit harus selalu sama dengan jumlah keseluruhan kredit. Cara ini akan memudahkan pemeriksaan jika terjadi kesalahan. Cara ini diketahui pertama kali digunakan pada abad pertengahan di Eropa, walaupun ada pula yang berpendapat bahwa cara ini sudah digunakan sejak zaman Yunani kuno.

 

Kritik mengatakan bahwa standar praktik akuntansi tidak banyak berubah sejak dulu. Reformasi akuntansi dalam berbagai bentuk selalu terjadi pada tiap generasi untuk mempertahankan relevansi pembukuan dengan aset kapital atau kapasitas produksi. Walaupun demikian, hal ini tidak mengubah prinsip-prinsip dasar akuntansi, yang memang diharapkan tidak bergantung pada pengaruh ekonomi seperti itu.

 

Akuntansi sebagai suatu seni yang mendasarkan pada logika matematik – sekarang dikenal sebagai “pembukuan berpasangan” (double-entry bookkeeping) – sudah dipahami di Italia sejak tahun 1495 pada saat Luca Pacioli (1445 – 1517), yang juga dikenal sebagai Friar (Romo) Luca dal Borgo, mempublikasikan bukunya tentang “pembukuan” di Venice. Buku berbahasa Inggris pertama diketahui dipublikasikan di London oleh John Gouge atau Gough pada tahun 1543.

 

Sebuah buku ringkas menampilkan instruksi akuntansi juga diterbitkan pada tahun 1588 oleh John Mellis dari Southwark, didalamnya memuat perkataannya, “I am but the renuer and reviver of an ancient old copie printed here in London the 14 of August 1543: collected, published, made, and set forth by one Hugh Oldcastle, Scholemaster, who, as appeareth by his treatise, then taught Arithmetics, and this booke in Saint Ollaves parish in Marko Lane.” John Mellis merujuk pada fakta bahwa prinsip akuntansi yang dia jelaskan (yang merupakan sistem sederhana dari masukan ganda/double entry) adalah “after the forme of Venice”.

 

Pada awal abad ke 18, jasa dari akuntan yang berpusat di London telah digunakan dalam suatu penyelidikan seorang direktur South Sea Company, yang tengah memperdagangkan bursa perusahaan tersebut. Selama penyelidikan ini, akuntan menguji sedikitnya dua buku perusahaan para. Laporannya diuraikan dalam buku Sawbridge and Company, oleh Charles Snell, Writing Master and Accountant in Foster Lane, London. Amerika Serikat berhutang konsep tujuan Akuntan Publik terdaftar pada Inggris yang telah memiiki Chartered Accountant di abad ke 19.

 

  • Prinsip akuntansi

 

  1. a.            Entitas (Kesatuan Usaha) :

Konsep ini sering disebut business entity concept. Konsep ini membatasi ruang lingkup kepentingan. Dalam akuntansi keuangan, perusahaan dianggap sebagai kesatuan ekonomi yang terpisah dari pihak-pihak yang berkepentingan dengan sumber-sumber perusahaan. Pemisahan ini ditujukan agar perusahaan berkewajiban untuk mempertanggung jawabkan keuangan perusahaannya kepada pihak-pihak yang berkepentingan.

 

  1. b.     Going Concern (Kontinuitas Usaha) :

Konsep ini mengasumsikan suatu entitas ekonomi akan terus melanjutkan usahanya dan tidak akan dibubarkan, kecuali bila ada bukti sebaliknya.

 

  1. c.     Penggunaan Unit Moneter dalam Pencatatan :

Semua transaksi-transaksi yang terjadi akan dinyatakan di dalam catatan dalam bentuk unit moneter pada saat terjadinya transaksi itu. Unit moneter yang digunakan adalah mata uang dari negara dimana perusahaan itu berdiri. Contoh : Indonesia unit moneternya Rupiah, Australia unit moneternya Dollar Australia, dan sebagainya.

 

  1. d.     Time Period (Periode Waktu) :

Adanya pembatasan waktu untuk dapat menilai dan melaporkan hasil dari usaha yang dijalankan. Hal ini disebabkan karena perusahaan dianggap akan terus hidup dimasa yang akan datang, sehingga tidak mungkin apabila untuk mengetahui keuntungan atau kerugian dari usaha kita harus menunggu perusahaan ditutup terlebih dahulu.

  1. e.     Historical Cost (Biaya Hostoris) :

Prinsip ini menetapkan nilai yang akan dilaporkan dalam laporan keuangan. Ada beberapa cara yang dapat digunakan dalam melaporkan nilai dalam laporan keuangan diantaranya :

  1. 1.  Nilai Buku (Book Value)
  2. 2.  Nilai Tunai (Present Value)
  3. 3.  Nilai Ganti (Replacement Value)
  4. 4.  Nilai Pasar (Market Value)

 

  1. f.      Penetapan nilai yang dipakai dalam laporan keuangan dengan menggunakan harga perolehan merupakan hal yang terbaik dibandingkan cara-cara yang lain. Harga perolehan adalah merupakan jumlah pengeluaran yang dilakukan oleh perusahaan untuk memperoleh suatu aktiva hingga siap pakai. Yang termasuk unsur harga perolehan adalah harga beli aktiva tersebut ditambah biaya-biaya lainnya sehingga aktiva tersebut siap digunakan.
  2. g.     Pengakuan Pendapatan (Recognition of Revenue) :

Pendapatan adalah kenaikan bersih kekayaan perusahaan sebagai hasil dari kegiatan perusahaan karena :

  1. Penjualan barang / jasa kepada pelanggan

2. Penerimaan sewa, bunga, deviden, royalities dan pendapatan lainnya

  1. Keuntungan dari penjualan aktiva
  2. Keuntungan dari pelunasan hutang
    1. Besarnya pendapatan diukur dengan nilai uang, yaitu sebesar nilai tunai dari hasil penjualan barang / jasa atau aktiva lainnya. Untuk transaksi non kas harus ditentukan berdasarkan harga perolehan atau harga pasarnya atau berdasarkan pertimbangan lainnya yang dianggap terbaik. Pengakuan pendapatan dilakukan berdasarkan waktu (accrual basic) yaitu berdasarkan saat terjadinya transaksi penjualan barang ataupun jasa.

 

  1. h.     Mempertemukan Beban dan Pendapatan (Matching Cost and Revenue) :

Yang dimaksud dengan prinsip ini adalah mempertemukan biaya dengan pendapatan yang timbul karena biaya tersebut. Prinsip ini sangat bermanfaat untuk menentukan besarnya penghasilan bersih yang diperoleh perusahaan setiap periodenya. Karena biaya harus dipertemukan dengan pendapatannya, maka pembebanan biaya sangat tergantung pada saat pengakuan pendapatannya.

 

  1. i.       Konsistensi (Consistency) :

Menurut prinsip ini, perusahaan dituntut untuk menerapkan prosedur dan metode akuntansi yang sama (konsisten) dari satu periode ke periode berikutnya.

 

  1. j.       Full Disclousure (Pengungkapan Lengkap) :

Dalam menyajikan data atau informasi keuangan suatu perusahaan harus secara lengkap dan tidak boleh ada yang disembunyikan.

 

  1. k.     Materiil (Materiality) :

Pada dasarnya akuntansi disusun berlandaskan dasar teori yang diterapkan untuk mencatat transaksi-transaksi yang terjadi dalam suatu cara tertentu. Akan tetapi dalam pelaksanaannya tidak semua transaksi diperlakukan sesuai dengan teori.

 

  1. l.       Konservatif (Konservatism) :

Pada prinsip ini, laporan keuangan disusun sedemikian rupa dengan penilaian yang direndahkan. Hal ini terjadi karena adanya sikap berhati-hati pihak manajemen yang tercermin dalam laporan keuangan untuk mengantisipasi keadaan pada waktu tidak diperoleh laba atau rugi.

 

  1. m.   Dasar Akrual (Accrual Basic) :

Untuk mencapai tujuannya, laporan keuangan disusun atas dasar akrual. Dengan demikian, transaksi dan peristiwa lain diakui pada saat kejadian, bukan pada saat kas atau setara kas diterima atau dibayar. Kemudian, transaksi dicatat dalam catatan akuntansi dan dilaporkan dalam laporan keuangan pada periode yang sama. Laporan keuangan yang disusun atas dasar akrual tidak hanya memberikan informasi transaksi masa lalu yang melibatkan penerimaan dan pembayaran kas. Tetapi, kewajiban pembayaran kas dan sumber daya yang menunjukkan kas yang akan diterima di masa depan juga diinformasikan.

Pengertian Asuransi Secara Umum

Perasuransian adalah istilah hukum (legal term) yang dipakai dalam perundang-undangan dan perusahaan peasuransian. Istilah perasuransian berasal kata “asuransi” yang berarti pertanggungan atau perlindungan atas suatu objek dari ancaman bahaya yang menimbulkan kerugian. Dalam pengertian “perasuransian” selalu meliputi dua jenis kegiatan, yaitu usaha asuransi dan usaha penunjang usaha asuransi. Perusahaan perasuransian selalu meliputi perusahaan asuransi dan penunjang asuransi.

Perusahaan asuransi adalah jenis perusahaan yang menjalankan usaha asuransi. Usaha asuransi adalah usaha jasa keuangan yang dengan menghimpun dana masyarakat melalui pengumpulan premi asuransi memberikan perlindungan kepada anggota masyarakat pemakai jasa asuransi terhadap kemungkinan timbulnya kerugian karena suatu peristiwa yang tidak pasti atau terhadap hidup atau meninggalnya seseorang.

Pengertian Asuransi bila di tinjau dari segi hukum merupakan asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian antara 2 (dua) pihak atau lebih dimana pihak tertanggung mengikat diri kepada penanggung, dengan menerima premi-premi Asuransi untuk memberi penggantian kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang di harapkan atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan di derita tertanggung karena suatu peristiwa yang tidak pasti, atau untuk memberi pembayaran atas meninggal atau hidupnya seseorang yang di pertanggungkan.

Kata asuransi berasal dari bahasa Inggris, insurance, dan secara aspek hukum telah dituangkan dalam Kitab Undang Hukum Dagang (KUHD) pasal 246, “Asuransi adalah suatu perjanjian dimana seseorang penanggung mengikatkan diri kepada seorang tertanggung dengan menerima suatu premi, untuk memberikan penggantian kepadanya karena suatu kerugian, kerusakan, atau kehilangan keuntungan yang diharapkan yang mungkin akan dideritanya karena suatu peristiwa yang taktentu.”

.Selain dalam KUHD pasal 246, juga dalam Undang – undang asuransi No. 2 tahun 1992 pasal 1 disebutkan Äsuransi atau pertanggungan adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih, dimana pihak penanggung mengikat diri kepada tertanggung, dengan menerima premi asuransi untuk memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian,kerusakan, atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti, atau memberikan suatu peristiwa pembayaran yang didasarkan atas meninggalnya atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan.

Pengertian lain, seperti dari Wirjono Prodjodikoro dalam bukunya Hukum asuransi di Indonesia memberi pengertian asuransi sebagai berikut : “suatu persetujuan dimana pihak yang menjamin berjanji kepada pihak yang dijamin, untuk menerima sejumlah uang premi sebagai pengganti kerugian, yang mungkin akan diderita oleh yang dijamin, karena akibat dari suatu peristiwa yang belum jelas”.

Robert I. Mehr dan Emerson Cammack, dalam bukunyaPrinciples of Insurance menyatakan bahwa suatu pengalihan risiko (transfer of risk) disebut asuransi.

D.S. Hansell, dalam bukunya Elements of Insurance menyatakan bahwa asuransi selalu berkaitan dengan risiko (Insurance is to do with risk)

Dalam asuransi konvensional perusahaan asuransi disebut Penanggung, sedangkan orang yang membeli produk Asuransi disebut Tertanggung atau Pemegang Polis, Tertanggung membayar sejumlah uang yang disebut premi untuk membeli produk yang disediakan oleh perusahaan asuransi . Premi asuransi yang dibayarkan oleh Tertanggung menjadi pendapatan perusahaan Asuransi, dengan kata lain terjadi perpindahan kepemilikan dana premi dari Tertanggung kepada Perusahaan Asuransi. Bila Tertanggung mengalami risiko sesuai dengan yang tertuang dalam kontrak asuransi, maka Perusahaan Asuransi harus membayar sejumlah dana yang disebut Uang Pertanggungan kepada Tertangggung atau yang berhak menerimanya. Sebaliknya bila sampai akhir masa kontrak Tertanggung tidak mengalami risiko yang
diperjanjikan maka kontrak Asuransi berakhir maka semua hak dan kewajiban kedua belah pihak berakhir. Dari proses diatas dapat disimpulkan bahwa terjadi perpindahan risiko financial yang dalam istilah asuransi disebut dengan transfer of risk dari Tertanggung kepada Penanggung.

Pengertian Asuransi (Syari`ah)

Dalam bahasa Arab Asuransi disebut at-ta`min, penanggung disebut mu`ammin, sedangkan tertanggung disebut mu`amman lahu atau musta`min. At-Ta`min diambil dari kata amana memiliki arti memberi perlindungan, ketenangan, rasa aman dan bebas dari rasa takut, sebagaimana firman Allah:

 

“Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan” (QS. Quraisy,106:4).

Dari kata tersebut muncul kata-kata yang berdekatan seperti:

( al-amanatu minal khaufi ) : aman dari rasa takut

( al-amanatu dhiddal khiyanah ) : amanah lawan dari khianat

( al-imanu dhiddal kufur ) : iman lawan dari kufur

( i’thoul amanah/al-amana ) : memberi rasa aman

Dari arti terakhir diatas, dianggap paling tepat untuk mendefinisikan istilah At-Ta`min, yaitu:

“Men-ta`min-kan sesuatu, artinya adalah: seseorang membayar/menyerahkan uang cicilan untuk agar ia atau ahli warisnya mendapatkan sejumlah uang sebagaimana yang telah disepakati, atau untuk mendapatkan ganti terhadap hartanya yang hilang, dikatakan “seseorang mempertanggungkan atau mengasuransikan hidupnya, rumahnya atau mobilnya”

Ada tujuan dalam Islam yang menjadi kebutuhan mendasar yaitu al kifayah (kecukupan) dan al amnu (keamanan). Sebagaimana firman Allah swt: “…Dialah Allah yang mengamankan mereka dari ketakutan”, sehingga sebagian masyarakat menilai bahwa bebas dari lapar merupakan bentuk keamanan, mereka menyebutnya dengan al amnu al qidza`I (aman komsumsi). Dari prinsip tersebut Islam mengarahkan kepada ummatnya untuk mencari rasa aman baik untuk dirinya sendiri dimasa mendatang atau untuk keluarganya sebagaimana nasehat Rasul kepada Sa`ad bin Abi Waqash agar mensedekahkan sepertiga hartanya saja selebihnya ditinggalkan untuk keluarganya agar mereka tidak menjadi beban masyarakat

Dewan Syariah Nasional (DSN-MUI) dalam fatwanya tentang pedoman umum asuransi syariah, memberi defenisi tentang asuransi sebagai berikut: Asuransi syariah (Ta`min, Takaful, Tadhamun) adalah usaha  saling melindungi dan tolong menolong diantara sejumlah orang/pihak melalui investasi dalam bentuk asset dan atau tabarru` yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi resiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syariah.

Dari definisi diatas nampak bahwa asuransi syariah bersifat saling melindungi dan tolong menolong yang disebut dengan “ta`awun”, yaitu prinsip hidup saling melindungi dan tolong menolong atas dasar ukhuwah islamiyah antara sesama anggota peserta Asuransi Syariah dalam menghadapi malapetaka (resiko)

Oleh sebab itu, premi pada Asuransi Syariah adalah sejumlah dana yang dibayarkan oleh peserta yang terdiri atas Dana Tabungan dan Tabarru`. Dana Tabungan adalah dana titipan dari peserta Asuransi Syariah (life insurance) dan akan mendapat alokasi bagi hasil (al mudharabah) dari pendapatan investasi bersih yang diperoleh setiap tahun. Dana tabungan beserta alokasi bagi hasil akan dikembalikan kepada peserta apabila peserta yang bersangkutan mengajukan klaim, baik berupa klaim nilai tunai maupun klaim manfaat asuransi. Sedangkan Tabarru` adalah derma atau dana kebajikan yang diberikan dan diikhlaskan oleh peserta asuransi jika sewaktu-waktu akan dipergunakan untuk membayar klaim atau manfaat asuransi (life maupun general insurance).

 

Perkembangan Asuransi Syariah

Perjanjian asuransi yang bertujuan untuk berbagi resiko antara penderita musibah dan perusahaan asuransi dalam berbagai macam lapangan. merupakan hal baru yang belum pernah dikenal dalam kehidupan Rasulullah SAW,  para sahabat. dan tabi’in. Asuransi dalam catatan sejarah dunia Barat pada abad 12, muncul dari gagasan bangsa Romawi berupa perjanjian asuransi laut yang kemudian memencar di beberapa daerah Eropa pada abad 14. Asuransi kebakaran berdiri pada tahun 1680 di London sebagai akibat peristiwa kebakaran besar pada tahun 1666 yang melahap lebih dari 13.000 rumah dan kira-kira 100 gereja.

Pada tahap selanjutnya, perkembangan asuransi telah memasuki fase yang memberikan muatan yang besar pada aspek bisnisnya dibandingkan dengan nilai-nilai sosial yang terkandung sejak awal. Hal ini terjadi setelah bisnis asuransi memasuki masa modern.

Perusahaan-perusahaan asuransi kebakaran serupa berdiri di Eropa pada abad 18, seperti Prancis, dan Belgia, kemudian disusul Amerika. Asuransi jiwa bagi awak kapal mulai dikenal pada abad 19, yang berarti pada mulanya asuransi jiwa merupakan bagian dari asuransi laut.  Perusahaan asuransi jiwa meluas dan berkembang pada abad 20 hingga sekarang. Perusahaan asuransi laut dan kebakaran yang pertama kali berdiri di Indonesia yaitu pada tahun 1843 adalah Bataviansche Zee & Brand Assurentie Maatshappij.  Perusahaan asuransi jiwa Bumi Putera sebagai usaha pribumi pada tahun 1912.

Ijtihad para pemerhati ekonomi yang dilakukan secara kontinyu menghasilkan sebuah konsep asuransi yang disebut Konsep Asuransi Ta’awun. konsep ini merupakan rekomendasi fatwa Muktamar Ekonomi Islam yang bersidang pertama kali di Mekah pada tahun 1976 M. Konsep ini dikuatkan pada sidang Majma’ al Fiqh al Islami al ’Alami di Jeddah pada tanggal 28 Desember 1985, yang memutuskan pengharaman Asuransi Jenis Perniagaan dan mengharuskan Asuransi jenis Ta’awun sebagai alternatif asuransi Islam untuk menggantikan Jenis Asuransi Konvensional. Majma’ al Fiqh al Islami al ’Alami menyerukan agar seluruh umat Islam menggunakan asuransi Ta’awun.

Asuransi Islam pertama berdiri di Sudan pada tahun 1979 sebagai respon dari fatwa tersebut, kemudian disusul The Islamic Arab Insurance Co di Arab Saudi pada tahun 1980. The Islamic Takaful Company of Luxembourg berdiri pada tahun 1983 di Bahamas dan selanjutnya berdiri di negara-negara lain termasuk Indonesia.

Kebutuhan jasa asuransi yang berdasarkan syariah di Indonesia diawali dengan mulai beroperasinya bank-bank syariah. Hal tersebut sesuai dengan UU No. 7 tahun 1992 tentang perbankan dan ketentuan pelaksanaan bank syariah. Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) melalui Yayasan Abdi Bangsa bersama Bank Muamallat Indonesia (BM1) dan Perusahaan Asuransi Tugu Mandiri pada tanggal 27 Juli 1993 sepakat memprakarsai pendirian Asuransi Takaful, dengan menyusun Tim Pembentukan Asuransi Takaful Indonesia (TEPATI).

TEPATI telah merealisasikan berdirinya PT Syarikat Takaful Indonesia sebagai Holding Company dan dua anak perusahaan PT Asuransi takaful Keluarga (Asuransi Jiwa) dan PT Asuransi Takaful (Asuransi Takaful Kerugian). Dua perusahaan tersebut dibentuk mengikuti ketentuan UU No. 2 tahun 1992 tentang usaha perasuransian, dimana perusahaan asuransi jiwa dan perusahaan asuransi kerugian harus didirikan secara terpisah. Tugas Holding Company selanjutnya adalah mengembangkan keuangan syariah lainnya. antara lain, leasing, anjak piutang, modal ventura, pegadaian, dan sebagainya. Fungsi utama Asuransi Takaful adalah sebagai invesment company.

Asuransi Syariah

Asuransi Syariah merupakan sistem saling memikul risiko diantara sesama peserta, sehingga antara satu dengan yang lainnya menjadi penanggung atas risiko yang muncul dengan prinsip saling tolong menolong dalam kebaikan dengan cara masing-masing menghibahkan dana Tabarru’ atau dana kebajikan. Dana tabarru’ tersebut dihibahkan oleh peserta kepada kumpulan dana peserta asuransi syariah dan pengelolaannya diamanahkan kepada perusahaan asuransi dengan membayarkan sejumlah fee atau ujroh yang dikenal juga sebagai dana milik pengelola.

Konsep tolong menolong antar peserta ini dalam asuransi syariah merupakan solusi untuk menghindari adanya ketidakpastian – unsur gharar akan terjadinya risiko dan besarnya risiko yang ada dalam transaksi jual beli asuransi konvensional yang berjalan saat ini.

Secara garis besar, terdapat beberapa hal yang yang membedakan asuransi syariah dengan asuransi konvensional yaitu dalam hal konsep, akad yang digunakan, kepemilikan dana, sumber pembayaran klaim, pembagian keuntungan, pembatalan polis asuransi serta adanya dewan pengawas dalam pengelolaannya, sebagai berikut:

Konsep

Sharing resiko antara satu peserta dengan peserta lainnya

Akad

Tolong-menolong

Kepemilikan Dana

Dana dari peserta sebagian akan menjadi milik peserta, sebagian lagi untuk perusahaan sebagai pemegang amanah dalam mengelola dana tersebut

Sumber Pembayaran Klaim

Dari rekening tabarru’ yang merupakan dana milik peserta

Keuntungan

Dapat dibagi antara perusahaan dengan peserta dalam bentuk hadiah (sesuai prinsip waad) *

Pembatalan Asuransi

Tertanggung memperoleh pengembalian premi secara prorata harian

DPS (Dewan Pengawas Syariah)

Ada untuk mengawasi manajemen, produk dan investasi dana agar dikelola sesuai dengan prinsip syariah

 

Tabarru’
Adalah sumbangan atau derma [dalam definisi Islam adalah Hibah]. Tabarru’ ini diberikan dan diikhlaskan oleh peserta asuransi syariah jika sewaktu-waktu akan dipergunakan untuk membayar klaim atau manfaat asuransi lainnya.

Unsur Gharrar [ketidakjelasan] dan Maysir [untung-untungan] tidak ada dalam asuransi syariah hilang karena:

  1. Posisi peserta sebagai pemilik dana menjadi lebih dominan dibandingkan dengan posisi perusahaan yang hanya sebagai pengelola dana peserta saja.
  2. Peserta akan memperoleh pembagian keuntungan dari dana tabarru’ yang terkumpul.

Beda dengan asuransi non-syariah di mana pemegang polis tidak tahu pasti berapa besar jumlah premi yang terkumpul, apakah lebih besar atau lebih kecil dari jumlah klaim, karena perusahaan sebagai penanggung bebas menggunakan dan menginvestasikan dananya ke mana saja.

Azas dan Prinsip Asuransi Syariah
Asuransi syariah berazaskan Azas Jaminan Bersama, dan memiliki prinsip Tanggung Jawab Bersama, Saling Membantu dan Bekerjasama, serta Perlindungan Bersama.

Kontrak dalam Islam

  1. Wa’ad yaitu perjanjian antara satu pihak kepada pihak lain. Pihak yang diberi janji tidak memikul kewajiban kepeda pemberi janji, dan bila terjadi pengingkaran terhadap janji tersebut, pemberi janji tidak dikenakan sanksi selain sanksi moral.
  2. Akad merupakan kontrak atau perjanjian yang dibuat 2 belah pihak yang saling mengikat di antara keduanya untuk bersepakat tentang suatu hal. Syarat dan ketentuan harus dijelaskan secara terperinci oleh kedua pihak. Jika ada pelanggaran kontrak, maka pihak yang melanggar akan dikenakan sanksi sesuai dengan kesepakatan dalam kontrak tersebut. Akad inilah yang nantinya banyak digunakan dalam asuransi syariah.

Ada 2 bentuk akad:

    1. Akad Tabarru’ yaitu semua bentuk kontrak/akad yang dilakukan dengan tujuan kebaikan dan tolong menolong, dan bukan semata untuk tujuan mencari keuntungan. Dalam asuransi syariah, akad ini terdapat pada dana tabarru’ di mana dana ini bersifat saling menguntungkan kedua pihak dan TIDAK digunakan untuk transaksi-transaksi yang bersifat komersial.
      Contoh: transaksi pinjam meminjam, pendelegasian, dan pemberian sesuatu.
    2. Akad Tijarah yaitu akad yang bertujuan komersial. Akad ini digunakan oleh peserta asuransi syariah dengan pihak perusahaan asuransi.  Skema Akad Tijarah terbagi menjadi 2, yakni: Kontrak yang Pasti [KP] dan Kontrak yang Tidak Pasti [KTP]. Bila telah ditentukan secara pasti [misal profit], tidak bisa diubah menjadi KTP. Hal ini mengandung unsur Gharar atau ketidakpastian. Sebaliknya, jika tidak disebutkan secara pasti [misal profit] maka tidak boleh diubah menjadi KP, karena hal ini mengandung unsur Riba’. Kedua unsur ini dilarang dalam konsep syariah.

 

Landasan Syar’i Asuransi Syariah

Persiapan Hari Depan

Allah SWT memerintahkan kepada hamba-Nya untuk senantiasa melakukan persiapan untuk menghadapi hari esok. Allah berfirman dalam surat al Hasyr ayat 18:

Artinya:

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah dibuat untuk hari esok (masa depan). Dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui yang kamu kerjakan [al Hasyr: 18]

Ayat di atas dikaitkan oleh sebagian umat Islam dengan aktivitas menabung atau berasuransi. Menabung adalah upaya mengumpulkan dana untuk kepentingan mendesak atau kepentingan yang lebih besar di masa depan, sedangkan asuransi adalah upaya berjaga-jaga jika suatu musibah datang menimpa, di mana hal ini membutuhkan perencanaan dan kecermatan.

            Menurut tafsir Ibnu Katsir ayat ini mempunyai maksud: Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah.” Allah SWT memerintahkan untuk bertakwa kepada-Nya. Pengertian takwa  ini mencakup sesuatu yang telah diperintahkan dan meninggalkan sesuatu yang telah dilarang. Allah SWT berfirman, “dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah dibuat untuk hari esok (masa depan),” yaitu, hisablah dirimu sebelum dihisab oleh Allah, dan lihatlah apa yang telah kamu tabung untuk diri-diri kamu, berupa amal shaleh, untuk hari di mana kamu akan kembali dan berhadapan dengan Tuhan kamu.

Artinya:

Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Al Maidah : 2

Barang siapa yang memenuhi hajat saudaranya, Allah akan memenuhi hajatnya [Bukhari, Muslim, Abu dawud]

Seorang mukmin dengan mukmin lainnya dalam satu masyarakat ibarat seluruh bangunan, yang mana tiap bagian dalam bangunan itu mengukuhkan bagian yang lain [Bukhari, Muslim]

Orang-orang mukmin dalam kecintaan dan kasih sayang seperti satu badan. Apabila salah satu anggota badan itu menderita sakit, maka seluruh badan merasakannya [Bukhari, Muslim]

Barang siapa yang tidak mempunyai perasaan belas kasihan, maka ia juga tidak mendapat belas kasihan (dari Allah) [Bukhari, Muslim]

Seseorang tidak dianggap beriman sehingga ia mengasihi saudaranya sebagaimana ia mengasihi dirinya sendiri [bukhari]

Allah senantiasa menolong hamba selagi hamba itu menolong saudaranya [Ahmad, Abu dawud]

 

Kaidah-kaidah fiqih yang digunakan para penggagas Asuransi Syariah.

Hukum asal segala sesuatu adalah mubah, kecuali ada dalil yang mengharamkannya.

ﻢﻳﺭﺣﺗﻠﺍ ﻰﻟﻋ ﻝﻳﻠﺩﻟﺍ ﻝﺩﻴ ﻰﺗﺣ ﺔﺣﺎﺑﻹﺍ ﺀﺎﻳﺸﻷﺍ ﻲﻓ ﻞﺼﻷﺍ

Hukum asal semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya

Di mana terdapat kemaslahatan, di sana terdapat hukum Allah

1         Sistem Operasional Asuransi Syariah (Kerugian)

Takaful ditegakkan atas dasar tiga prinsip, yaitu:

1.      Saling bertanggung jawab

2.      Saling bekerja sama dan saling membantu

3.      Saling melindungi

1.      Konsep Takafuli (Tolong Menolong)

Konsep asuransi kerugian mempresentasikan hadits Nabi yang menjadi dasar konsep syariah yaitu konsep tolong menolong atau saling melindungi dalam kebenaran sebagaimana terawat dalam Surat Al-Maidah ayat 2

Artinya:

Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.

Rasulullah bersabda dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim:

Mukmin terhadap mukmin yang lainnya seperti bangunan memperkuat satu sama lain

Hadits riwayat Bukhari yang lain:

 “Orang-orang mukmin dalam kecintaan dan kasih sayang mereka seperti satu badan. Apabila salah satu anggota badan itu menderita sakit maka seluruh bagian badan merasakan”.

Bentuk tolong menolong ini digunakan dalam kontribusi dan kebajikan (dana tabarru’) sebesar yang ditetapkan. Apabila ada salah satu dari peserta takaful atau peserta asuransi syariah mendapat musibah, maka peserta lainnya ikut menanggung resiko, dimana klaimnya dibayarkan dari akuntansi dana tabarru’ yang terkumpul.

Surplus dana tabarru’ pada beberapa praktek asuransi syariah, dikembalikan sebagian kepada peserta melalui mekanisme mudharabah (bagi hasil). Mekanisme dan akad yang mendasari pengembalian melalui mekanisme mudharabah masih terdapat perbedaan pendapat dikalangan ulama.

2.      Perjanjian (Akad)

Akad yang mendasari kontrak asuransi syariah kerugian adalah akad tabarru’, dimana pihak pemberi dengan ikhlas memberikan sesuatu (kontribusi/premi) tanpa ada keinginan untuk menerima apa pun dari orang yang menerima, kecuali hanya mengharapkan keridhaan Allah. Hal ini tentu akan sangat berbeda dengan akad dalam asuransi konvensional. Akad dalam asuransi konvensional menggunakan akad mu’awadah yaitu suatu perjanjian di mana pihak yang memberikan sesuatu kepada pihak lain, berhak menerima pengganti dari pihak yang diberinya

Terdapat perbedaan implementasi akad tabarru’ dalam praktek asuransi syariah saat ini, yaitu:

1.      Asuransi syariah yang dalam prakteknya memberikan bagi hasil (mudharabah) apabila terjadi surplus dana tabarru’ merujuk kepada sistem yang diterapkan di Syarikat Takaful Malaysia, yang merupakan asuransi syariah terbesar di dunia saat ini.

2.      Asuransi syariah yang tidak membagikan dengan alasan bahwa tabarru’ adalah dana yang sudah diikhlaskan untuk tolong menolong, peserta tidak perlu mengharapkan pengembalian apa-apa lagi kecuali mengharapkan kebaikan (pahala) dari Allah.

Konsep perjanjian (akad) yang berlaku di Takaful Group secara Internasional, baik di Takaful Malaysia, Takaful Jeddah, Takaful Brunei, Takaful Singapura, Takaful Bangladesh, maupun Takaful Indonesia adalah kontrak (perjanjian) yang didasarkan pada prinsip al-mudharabah. Perusahaan (al mudharib) mengumpulkan Kontribusi Takaful (ra’sul mal) yang dibayar oleh peserta (shohibul mal) dan pengelola dengan berbagai kelas (tahapan saling menanggung) pada Takaful Konvensional termasuk investasi dari dana kontribusi tadi. Peserta membayar Kontribusi Takaful sebagai tabarru’ yang secara khusus bertujuan menolong sesama peserta yang tertimpa musibah tertentu atau kemalangan. Perjanjian tersebut juga menetapkan pembagian surplus (profit) antara peserta dan perusahaan, yang muncul dari bisnis Takaful Konvensional (General Insurance) sehubungan dengan prinsip al-mudharabah.

Beberapa ulama di Dewan Syariah Nasional (DSN–MUI) berpendapat bahwa dana yang sudah diikhlaskan sebagai tabarru’ tidak boleh pada saat bersamaan ada akad mudharabah (bagi hasil), karena ada kaidah syara’ yang tidak membenarkan ada dua akad dalam satu perjanjian. Pendapat ulama yang lain menyatakan bahwa tidak dibenarkan suatu akad tabarru’ diubah menjadi akad tijarah “mudharabah”. Sebagian ulama berpendapat bahwa dibenarkan pada satu perjanjian, di mana ada akad mudharabah dan pada saat bersamaan (include) di dalamnya juga terdapat akad tabarru’.

Dalam fatwa DSN–MUI dengan jelas mengatur ketentuan dalam akad tijarah dan akad tabarru’ sebagai berikut :

1)         Jenis akad tijarah dapat diubah menjadi jenis akad tabarru’ bila pihak yang tertahan haknya dengan rela melepaskan haknya, sehingga menggugurkan kewajiban pihak yang belum menunaikan kewajibannya.

2)            Jenis akad tabarru’ tidak dapat diubah menjadi jenis akad tijarah.

Perbedaan pendapat ini menunjukkan bahwa perlu pengkajian lebih dalam tentang Asuransi Syariah (Takaful), sehingga akad yang dilakukan saat ini menjadi syar’i atau lebih disempurnakan lagi. Tidak tertutup kemungkinan ke depan para ulama dan pakar menemukan formula akad yang lebih tepat dan pas, baik segi syar’i maupun aspek market (marketing).

Surplus dana tabarru’ atau dalam bahasa teknik asuransi disebut Surplus Underwriting, dapat dibagikan kecuali kepada para peserta (nasabah) sebagai bonus atau hadiah, tetapi bukan menggunakan akad mudharabah (bagi hasil), walaupun dalam akad tabarru’ tidak ada kewajiban bagi pengelola untuk memberikan bonus, karena dana tabarru’ sudah diikhlaskan untuk dana tolong menolong, dan peserta tinggal berharap pahala dari Allah, sehingga secara syar’i peserta tidak berhak lagi untuk berharap apalagi meminta hak bagi hasil dari pengelola.

Pihak pengelola karena kebaikan atau pertimbangan lain tidak ada larangan seandainya kemudian memberikan hadiah kembali kepada peserta misalnya dengan meminjam skim atau cara pembagian yang biasa digunakan dibagi hasil, atau menggunakan rumus lain, yang pada prinsipnya itu bukan diartikan sebagai akad mudharabah, tetapi semacam hadiah saja dengan meminjam rumus yang biasa digunakan di konsep mudharabah misalnya 70 : 30, 60 : 40 dan sebagainya.

Mekanisme Pengelolaan Dana

1.      Kedudukan Perusahaan Asuransi Syariah

Kedudukan perusahaan Asuransi Syariah dalam transaksi Asuransi Kerugian adalah sebagai mudharib (pemegang amanah). Asuransi Syariah menginvestasikan dana tabarru’ yang terkumpul dari kontribusi peserta kepada Instrumen yang dibenarkan oleh syara’. Mudharib berkewajiban untuk membayarkan klaim, apabila ada salah satu dari peserta mengalami musibah, juga berkewajiban menjaga dan menjalankan amanah yang diembannya secara adil transparan dan profesional. Mudharib diawasi secara teknis dan operasional oleh komisaris dan secara syar’i diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS) dalam mengelola dana peserta yang terkumpul pada kumpulan dana tabarru’.

2.      Mekanisme Pengelolaan Dana

Mekanisme pengelolaan dana dibeberapa perusahaan asuransi kerugian (syariah) di Indonesia dan Malaysia misalnya Syarikat Takaful Malaysia dan Asuransi Takaful Konvensional, Tripakarta cabang Syariah, Bringin Sejahtera Cabang Syariah, Binagriah Cabang Syariah, Jasindo Cabang Syariah, mekanisme pengelolaan dana adalah sebagai berikut :

Dana dibayarkan peserta, kemudian terjadi akad mudharabah (bagi hasil) antara mudharib (pengelola) dengan shohibul mal (peserta). Kumpulan dana tersebut kemudian diinvestasikan secara syariah ke Bank Syariah maupun ke Investasi Syariah lainnya, lalu dikurangi biaya-biaya operasional (seperti klaim, reasuransi, komisi broker dll) selanjutnya surplus (profit) dilakukan bagi hasil antara mudharib (pengelola) dan shohibul mal (peserta) sesuai dengan skim bagi hasil yang telah ditentukan sebelumnya (misalnya 60 : 40). Bagian yang 60 persen untuk mudharib (perusahaan) setelah dikurangi biaya administrasi dan management expenses, sisanya menjadi profit bagi shareholders, sedangkan bagian yang lain, yaitu 40 % menjadi share of surplus for participant (surplus bagi hasil untuk partisipasi).

 

SISTEM AKUNTANSI PADA ASURANSI SYARIAH

A.      Akuntansi  Syariah dan Akuntansi Konvensional

I.          Pengertian Akuntansi

a.     Akuntansi Konvensional

Beberapa pengertian akuntansi dalam buku A Statement of Basic Accounting Theori  dinyatakan bahwa akuntansi adalah proses mengidentifikasi, mengukur, dan menyampaikan informasi ekonomi sebagai bahan informasi dalam hal pertimbangan dalam mengambil kesimpulan oleh para pemakainya.

b.    Akuntansi Syariah

Akuntansi dalam Bahasa arab biasa disebut muhasabah karta ini berasal dari kata kerja hasabah dan bias juga diucapkan dengan hisab, hasabah, muhasabah. Kata kerja yang menunjukkan interaksi seseorang dengan orang lain. Pengertiannya dalam kalimat “ Menghitung semua amalnya untuk dia balas sesuai dengan amalnya tersebut”. Seperti dalam firman Allah

“Dan berapalah banyaknya (penduduk) negeri yang mendurhakai perintah tuhan mereka dan rasul-rasul-Nya. Maka kami hisab penduduk itu dengan hisab yang keras dan kami azab mereka dengan azab yang mengerikan”. (ath-Thalaaq:8).

Ilmu hisab adalah cikal bakal ilmu matematika, dan kadang  juga dengan ilmu bilangan. Yaitu ilmu yang membahas tentang cara menghitungkan plus atau minusnya suatu bilangan. Ilmu ini juga untuk mengetahui bilangan majhul yang tidak diketahui.

Oleh karena itu, dapat juga mengatakan hasaba, hasban, hisabatan, dan hisaban seperti pada firman Allah.

Artinya; ”dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas. .” (al-Israa:12).

II.          Landasan Syar’i

Beberapa dalil-dalil  syar’i menjadi dasar  akuntansi syariah dan sekaligus membedakannya dengan akuntansi konvensionalnya. Dapat dilihat dalam beberapa firman Allah, hadits Nabi, kaidah fiqih, dan pendapat para ulama sebagai berikut.

1.    Firman Allah dalam Al-Qur’an

Yang terdapat dalam surat (Al-Baqarah:282), surat (an-Nissa:135), surat (asy-Syuraa:182-183).

2.    Sabda Rasulullah

Yang pertama dihisab dihari kiamat nanti ialah shalat. Jika shalat itu dikerjakan dengan benar, benarkah  semua perbuatannya. Tetapi jika shalat itu  rusak, rusaklah semua amal perbuatannya. (HR Ibnu Maajar, Ahmad, dan Malik).

3.    Kaidah Fiqih

Pada dasarnya dalam bentuk muamalat boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya.

4.    Pendapat Para Sahabat dan Ulama

Umar Ibnu Khaththab r.a berkata. “Hisablah dirimu sendiri sebelum kamu dihisab, timbanglah amalanmu sebelum kamu ditimbang, dan bersiaplah untuk menghadapi hari dimasa semua amal perbuatan diberikan.”

 

III.          Tujuan Akuntansi Keuangan Syariah

Akuntansi keuangan mengalami perkembangan dari waktu ke waktu seiring dengan tingkat kebutuhan perusahaan untuk menetapkan hak dan kewajiban keuangan, hasil operasi dan untuk memberikan imformasi mengenai posisi keuangan pada waktu tertentu.

Suatu transaksi dikatakan sesuai dengan prinsip syariah apabila telah memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

1.     Transaksin tidak mengandung unsur kezaliman

2.    Transaksi tidak mengandung unsur riba

3.    Transaksi tidak mengandung unsur judi

4.    Transaksi tidak mengandung unsur penipuan

5.    Transaksi tidak mengandung material yang diharamkan

6.    Transaksi tkidak membahayakan pihak sendiri atau pihak lain

Adapun tujuan dari Akuntansi Keuangan Syariah baik pada asuransi syariah maupun pada lembaga keuangan syariah lainnya adalah sebagai berikut:

1.     Menentukan hak dan kewajiban pihak terkait termasuk hak dengan kewajiban yang berasal dari transaksi yang belum selesai dan atau kegiatan ekonomi lain, sesuai dengan prinsip syariah yang berdasarkan pada konsep  kejujuran, keadilan,  kebajikan dan kepatuhan terhadap nilai-nilai bisnis Islam.

2.    Menyediakan informasi keuangan yang bermanfaat bagi pemakai laporan untuk mengambil keputusan.

3.    Meningkatkan kepatuhan terhadap prinsip syariah dalam semua transaksi dan kegiatan usaha.

IV.          Prinsip – Prinsip Dasar Akuntansi Syari’ah

Prinsip yang paling dasar dan utama yang menjadi pegangan dalan sistem Akuntansi yang Islam adalah prinsip adil, transparan dan jujur (amanah). Sistem akuntansi merupakan internal perusahaan dan jika tidak dilandasi oleh kejujuran dan transparansi disana akan terjadi rekayasa dan kecurangan. Allah berfirman yang artinya:

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan pemusuhan. Dia member pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (an-Nahl:90).

Dr. Husein Syahatah, pakar akuntansi dari mesir, menjelaskan beberapa prinsip yang harus menjadi pegangan bagi seorang akuntan, terutama dalam menyusun neraca keuangan adalah:

1.     Amanah

Orang yang menyiapkan laporan hitungan akhir dan neraca keuangan harus bersifat amanah dalam semua  informasi dan keterangan yang dipaparkannya. Ketika putri Nabi Syu’aib mengusulkan untuk mempekerjakan Nabi Musa, fokus usulan waktu itu ialah faktor kekuatan sifat amanah, seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur’an.

“Ya bapakku, ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita) karena sesunguhnya orang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja ialah orang yang kuat dan dapat dipercaya.” (al-Qashash:26)

2.    Mishaqiah (Sesuai Realitas)

Didalam akuntansi yang dimaksud dengan mishaqiah secara umum ialah menyiapkan hitungan-hitungan akhir serta neraca-neraca keuangan.

3.    Diqqah

Yang dimaksud dengan diqqah ialah berbuat sebaik-baiknya dan menyempurnakan pekerjaan seperti yang digambarkan Al-Qur’an.

“Sesunguhnya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalannya dengan baik. (al-Kahfi:30)

Diantara syarat-syarat diqqah ‘ketelitian dan kesempurnaan’ dalam menyiapkan hitungan-hitungan neraca keuangan adalah harus mematuhi atau komitmen terhadap kaidah-kaidah resmi akuntansi, peraturan-peraturan atau petunjuk-petunjuk yang telah ditetapkan secara syar’i.

4.    Tauqit (Penjadwalan yang Tepat)

Yang dimaksud dengan tauqit adalah hasil-hasil hitungan dan neraca-neraca keuangan dapat diselesaikan dalam batas-batas waktu yang telah ditetapkan tampa mengulur-gulur waktu sehingga tidak mengurangi manfaat dan efisiensi kerja. Juga harus mencantumkan penanggalan dalam laporan itu. Hal ini ditegaskan Allah dalam Al-Qur’an.

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” (al-Baqarah: 282).

5.    Adil dan Netral

Sifat amanah dan jujur akan menimbulkan sikap komitmen seseorang akuntan. Yaitu, yang akan menyiapkan laporan hitungan akhir dan neraca keuangan dengan tetap berpegang pada nilai-nilai kebenaran, sikap netral tanpa basa-basi atau sungkan dan segan, sebab kebenaran lebih utama untuk diikuti. Dan telah menunjukkan hal itu didalam ayat utang-piutang berikut ini.

“Dan, hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskan dengan benar. Dan janganlah engkau menuliskannya sebagai mana Allah telah mengajarkannya.” (al-Baqarah 282).

B.       Asuransi Syariah dan Asuransi Konvensional

I.          Pengertian Asuransi

a.    Asuransi Syari’ah

Asuransi dalam bahasa arab disebut At’ta’min yang berasal dati kata amanah  yang berarti memberikan ketenangan, perlindungan,rasa aman serta bebas dari rasa takut. Istilah menta’minkan sesuatu berarti seseorang memberikan uang cicilan agar ia atau orang yang ditunjuk menjadi ahli warisnya mendapatkan ganti rugi atas harta yang hilang.

Menurut fatwa Dewan Asuransi Syari’ah Nasional Majelis ulama Indonesia(DSN-MUI) Fatwa DSN No. 21/DSN-MUI/X/2001 tentang pedoman Umum Asuransi Syariah bagian pertama menyebutkan pengeertian asuransi syariah (Ta’min, takaful atau thadamun) adalah usaha saling melindungi dan tolong menolong diantara sejumlah oorang atau pihak melalui investasi dalam bentuk set dan atau tabarru yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi resiko tertentu melalui akad atau perikatan yang sesuai dengan syariah.

b.   Asuransi Konvensional

Asuransi konvensional adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih, dimana pihak penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung dengan  menerima premi asuransi untuk memberikan pergantian kepada tertanggung.

 

II.          Perbedaan Asuransi Syariah dengan Asuransi Konvensional

a.        Konsep

Prinsip dasar dalam asuransi syariah adalah saling tolong menolong (ta’awuni) dan saling menanggung (takafuli) antara sesama peserta asuransi.[1][2]

 Dalam asuransi konvensional, asuransi merupakan transfer of risk yaitu pemindahan risiko dari peserta/tertanggung ke perusahaan/penanggung sehingga terjadi pula transfer of fund yaitu pemindahan dana dari tertanggung kepada penanggung. sebagai konsekwensi maka kepemilikan dana pun berpindah, dana peserta menjadi milik perusahaan ausransi.

b.   Sumber Hukum

asuransi konvensional bersumber dari pemikiran manusia dan kebudayaan. Berdasarkan hukum positiif, hukum alamiah dan contoh sebelumnya. Sedangkan asuransi syariah bersumber dari wahyu ilahi.

c.     Akad

akad pada asuransi konvensional didasarkan pada akad tadabuli atau perjanjian jual beli. perjanjian yang diterapkan dalam asuransi konvensional hanya memenuhi persyaratan adanya penjual, pembeli dan barang yang diperjual-belikan. sedangkan untuk harga tidak dapat dijelaskan secara kuantitas, berapa besar premi yang harus dibayarkan oleh peserta asuransi utnuk mendapatkan sejumlah uang pertanggungan. Sedangkan pada asuransi syariah mengggunakan akad tabbaru’ dan tijaroh.

d.    Maisir, Gharar dan Riba

Dalam praktik asuransi konvensional yang sarat dengna maisir, gharar dan riba yang merupakan hal yang diharamkan dalam bermuamalah.

e.    Tabarru dan Tabungan

Untuk produk asuransi jiwa syariah yang mengandung unsur saving maka dana yang dititipkan oleh peserta (premi) selain terdiri dari unsur dana tabarru terdapat pula unsur dana tabungan yang digunakan sebagai dana investasi oleh perusahaan. sementara investasi pada asuransi kerugian syariah menggunakan dana tabarru karena tidak ada unsur saving. hasil dari investasi akan dibagikan kepada peserta sesuai dengan akad awal. jika peserta mengundurkan diri maka dana tabungan beserta hasilnya akan dikembalikan kepada peserta secara penuh.

f.     Dewan Pengawas Syariah 

Pada asuransi syariah seluruh aktivitas kegiatannya diawasi oleh dewan pengawas syariah (dps) yang merupakan bagian dari dewan syariah nasional (dsn), baik dari segi operational perusahaan, investasi maupun sdm. kedudukan dps dalam struktur oraganisasi perusahaan setara dengan dewan komisaris.

C.  Perbedaan  Sistem  Akuntansi  Asuransi Syariah dan Akuntansi Asuransi Konvensional

Konsep akuntansi Islam dan akuntansi konvensional memiliki sifat dan karakteristik yang berbeda. Sebab dasar-dasar akuntansi Islam adalah syariat Islam yang diimplementasikan dikalangan masyarakat muslim, yang prosesnya ditangani oleh para akuntan yang mengombinasikan kemampuan dan kecakapan dengan kejujuran kerja.

Berdasarkan pengertian, landasan syar’I dan prinsip-prinsip akuntansi syariah serta keterangan-keterangan diatas, dapat kita simpulkan sifat-sifat spesifik akuntansi syariah diantaranya sebagai berikut.

1.       Kaidah-kaidah dasar akuntansi Islam bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah nabawiyah serta fiqih para ulama. Oleh karena itu kaidah-kaidah ini memiliki keistimewaannya yaitu permanen dan objektif.

2.      Akuntansi Islam dilandasi oleh kaidah yang kuat, iman, serta pengakuan bahwa Allah itu adalah Tuhan, Islam adalah agama, Muhammad adalah Rasul, dan juga percaya pada hari akhir. Berdasarkan hal ini, wajiblah bagi setiap akuntan yang menjalankan proses akuntansi un tuk percaya bahwa harta yang dia hitung itu adalah harta Allah, dan Allah telah menyuruhnya mencatat perputaran harta itu, seperti pemasukan dan pengeluaran berdasarkan kaidah-kaidah hokum.

3.      Akuntansi Islam berlandaskan pada akhlak yang baik. Karenanya, seorang akuntansi yang melaksanakan proses akuntansi harus mampu mempunyai sifat amanah, jujur, netral, adil, dan professional, supaya setiap kliennya neraca tentang terhadap harta dan terhadap orang yang ia berinteraksi dengannya.

4.      Dalam Islam, seorang akuntan dianggap bertanggung jawab di depan masyarakat dan umat Islam tentang berapa jauh kesatuan ekonomi yang dipengaruhi oleh hokum syariat Islam, terutama yang berkaitan dengan muamalah. Keputusan-keputusan yang diambilnya yang akan diajukan kekantor-kantor resmi maupun organisasi-organisasi social, hendaklah mengandung informasi-imfomasi tentang bentuk-bentuk pelanggaran hokum dan sebab-sebabnya serta bentuk-bentuk yang kontradiktif antara syariat dan implementasi praktis.

5.      Berdasarkan keistimewaan-keistimewaan yang bersifat kaidah dan akhlak, akuntansi dalam Islam juga berkaitan dengan proses-proses keuangan yang sah. Karenanya, setiap proses yang tidak sah tidak memiliki tempat dalam Islam.

6.      Akuntansi dalam Islam sangat memperhatikan aspek-aspek tingkah laku sebagai unsur dan juga berperan dalam kesatuan ekonomi. Artinya dalam akuntansi Islam, ketika merumuskan undang-undang akuntansi dan penentuan petunjuk-petunjuk evaluasi kerja, juga perlu diperhatikan motivasi-motivasi yang manusiawi, baik material maupun moril.

 

Dalam system akuntansi syariah memiliki beberapa perbedaan system akuntansi dengan akuntansi konvensional. Mohamed Arif bin Abdul Rashid, CEO PT. Syarikat Takaful Indonesia, dalam Eccounting Concept In Takaful Busines menjelaskan beberapa perbedaan tersebut sebagai berikut:

 

1.Cash Bases

Dalam praktik akuntansi konvensional, premi asuransi diakui sebagai pendapatan, walaupun premi asuransi belum dibayarkan.

Sedangkan dalam praktik akuntansi takaful atau asuransi syariah, angsuran atau premi dan laba dari investasi benar-benar diakui sebagai pendapatan jika perusahaan telah menerimanya secara tunai. Praktik akuntansi ini memiliki arti yang penting yang berkaitan dengan system bisnis yang berperinsip pada mudharabah dimana akad mengikat antara peserta dengan perusahaan dalam kesepakatan bagi hasil.

2.Technical Reserve

Cadangan teknis merupakan bagian dari premi asuransi yang belum dihasilkan atau dikenal sebagai cadangan premi yang belum dihasilkan. Dalam system akuntansi takaful, cadangan teknik dihitung dengan menggunakan metode 1/365. Premi akan diakui sebagai pendapatan serta ditentukan menurut jumlah hari yang sebenarnya selama periode akuntansi dan masa perjanjian/kontrak Tafakul.

 

Beban Retakaful

Dalam praktik asuransi konvensional beban reasuransi selama masa perjanjian, diakui sebagai asuransi awal yang dikover. Praktik akutansi ini sesuai dengan standar yang diterima, yaitu perbandingan pendapatan dengan beban yang terjadi pada periode berjalan.

Dalam system akuntansi Takaful, beban retakaful selama masa perjanjian diakui sebagai utang sampai angsuran atau premi Takaful dibayar oleh peserta. Akan tetapi, beban retakaful ini akan diakui sebagai pendapatan juika seluruh premi dibayar lebih awal oleh peserta.

3.Surplus (Pada Asuransi Jiwa)

Dalam asuransi konvensional, surplus dari investasi ditrasfer ke pemegang saham sebagai pendapatan. Tetapi, di Takaful keluarga (jiwa), perusahaan tidak berhak mengakui surplus ini sebagai pendapatan.

Pada Takaful keluarga hanya laba dari dana investasi dibagikan antara peserta dan perusahaan sesuai yang diperjanjikan (misalnya 70:30 atau 60:40). Setelah dikurangi bagian keuntungan bagi perusahaan, sisa dari keuntungan ini merupakan pendapatan bagi peserta Takaful yang dikreditan kerening peserta.

 

4.Surplus (Pada Asuransi Kerugian)

Laba dari Takaful Umum (kerugian) dibagikan berdasarkan rasio pembagian keuntungan yang telah disepakati antara perusahaan dan peserta Takaful. Keuntungan dibayarkan jika peserta tafakul masih terikat perjanjian atau kontrak.

Keuntungan lain yang bersifat jangka panjang bahwa adanya nilai kebersamaan, tolong-menolong, dan saling menaggung jika di antara peserta terjadi klaim kerugian. Inilah sisi kemungkinan yang didapatkan dari asuransi Takaful.

Secara ringkas perbedaan antara akuntansi asuransi konvensial dengan akuntansi asuransi syariah dapat dilihat pada tabel berikut.

No

Akuntansi Asuransi Konvensial

Akuntansi Asuransi Syariah

1

Premi Asuransi diakui sebagai pendapatan meskipun premi asuransi belum dibayarkan.

Premi Asuransi benar-benar diakui sebagai pendapatan jika diterima secara tunai.

2

Beban retakul selama perjanjian diakui sebagai asuransi awal yang dikover.

Beban retakaful diakui sebagai utang sampai angsuran atau premi takaful dibayarkan. Dan beban retakaful diakui sebagai pendapatan jika dibayar lebih awal.

3

Dana asuransi yang terhimpun dikelola untuk kepentingan bisnis perusahaan dengan keuntungan yang dinikmati oleh perusahaan dan pemegang saham.

Dana asuransi tafakul yang terhimpun dikelola dengan konsep mudharabah

 

4

Laba atau surplus investasi ditrasfer ke pemegang saham.

Laba investasi dari dana Takaful keluarga yang terhimpun dibagikan kepada peserta takaful keluarga dan perusahaan tidak berhak mengakui surplus ini sebagai pendapatan.

5

Keuntungan yang didapatkan oleh perusahaan asuransi merupakan laba perusahaan

Ada pembagian keuntungan/berdasarkan rasio yang disepakati dalam perjanjian

 

Konsep Akuntansi Asuransi Syariah yang diuraikan di atas adalah konsep akuntansi yang menggunakan akad mudharabah sebagaimana yang diterapkan di Syarikat Takaful Berhad Malaysia dan juga diterapkan di PT Asuransi Takaful keluarga Indonesia.

Selain ini ada juga model akuntansi asuransi syariah yang menggunakan akad wakalah dan konsep ini diakui berdasarkan Standar Accounting and Auditing Organizing for Islamic Financial Institutions (AAOIFI).

Kedua konsep ini menurut saya, menganut kebenaran yang pertama menggunakan akad mudharabah mewakili ‘mazhab Malaysia’ (Cash Bases), sedangkan yang kedua akad wakalah mewakili ‘Mazhab Bahrian’ (Accrual Bases).

 

D.  IMPLEMENTASI AKUNTANSI ISLAM PADA ASURANSI SYARIAH

Sebagai bahan kajian pada bagian ini, saya sajikan satu system akuntansi syariah yang telah diterapkan pada salah satu asuransi syariah yang sudah cukup mapan dan terbesar di dunia saat ini, yaitu syarikat Takaful Malaysia Berhad, sebagaimana diungkapkan Mohamed Arif bin Abdul Rashid dalam tulisannya.

1.    Konsep Akuntansi Asuransi Takaful

a.    Takaful hampir sama dengan asuransi konvensional yang memiliki prosedur secara spesifik dan aturan bisnis sendiri yang telah diatur dalam takaful Act 1984 demikian pula asuransi konvensional yang telah diatur dalam insurance 1963.

b.    Karena asuransi takaful juga dikembangkan dengan konsep bisnis, maka untuk memenuhi konsep bisnis yang telah diatur dalam syariah Islam, asuransi takaful dikembangkan sesuai dengan system akuntansi yang berbeda dengan akuntansi asuransi konvensional.

2.    Kesamaan Prinsip Akuntansi Asuransi Konvensional dan Takaful

Prinsip akuntansi asuransi konvensional sesuai dengan prinsip dan konsep asuransi takaful sebagai berikut:

a.    Premi asuransi yang diterima sebelum tanggal pristiwa diakui dalam laporan keuangan periode berikutnya.

b.    Technical Reserve. Dana cadangan merupakan jumlah yang dihitung dari premi penutupan asuransi yang tidak digunakan selama periode berjalan.

c.    Membayar klaim. Kecukupan dana cadangan untuk membayar klaim dibentuk sebelum laba bersih perusahaan selama periode berjalan dibagikan.

d.    Retakaful. Seperti perusahaan asuransi konvensional, takaful juga menghadapi beberapa kendala didalam memenuhin klaim yang diajukan peserta. Takaful yang memiliki resiko tinggi, maka perusahaan asuransi tafakul melakukan pemecahan resiko, sehingga mengurangi beban kerugian keuangan pada takaful.

e.    Perkiraan pendapatan dari Takaful keluarga, kelebihan angsuran pada dana takaful keluarga atau life insurance dihitung tiap bulannya dan diakui sebagai dana takaful pada akhir tahun.

 

3.    Konsep Dasar Akuntansi

            Konsep dasar akuntansi yang digunakan dalam akuntansi syariah adalah sebagai berikut:

a.    Portulat Akuntansi

1.         Going Concern

2.         Konsistensi

3.         Akrual

b.    Prinsip Akuntansi

1.         Prudence

2.         Substance over form

3.         Materialis

c.    Pengakuan Pendapatan dan Beban

1.    Pengakuan pendapatan dan beban merujuk pada standar akuntansi yang telah disesuaikan dengan prinsip syariah.

2.    Pendapatan diakui dengan cash bases. Pendapatan yang belum terealisasi ditangguhkan dan diterima pada periode yang akan datang.

3.    Beban diakui berdasarkan pada standar akuntansi yang berlaku umum.

4.    Kebijakan Penting Akuntansi

a.    Konsep dasar akuntansi. Perkiraan-perkiraan akuntansi diakui dengan konsep historical cost yang telah dimodifikasi dan disesuaikan dengan prinsip-prinsip syariah dan tidak bertentangan dengan standar akuntansi umum.

b.    Dana takaful keluarga (asuransi jiwa). Dana takaful keluarga ditetapkan dalam Takaful (amandemen) Act, 1985 dan termasuk keuntungan yang akan diperoleh asuransi takaful keluarga.

c.    Surplus Taskaful Umum (asuransi kerugian). Surplus Takaful Umum ditentukan setelah dikurangi retakaful, cadangan yang tidak dibagikan dan klaim yang belum dibayar.

d.    Klaim. Provisi merupakan total jumlah taksiran klaim yang berkaitan untuk klaim yang diajukan, tetapi belum dibayar pada tanggal neraca.

e.    Aktiva tetap dan penyusutan. Aktiva tetap diakui sejumlah nilai perolehan yang dikurangi akumulasi penyusutan.

f.     Pengakuan pendapatan. Pendapatan diakui berdasarkan pada cash bases. Pendapatan yang tidak terealisasi yang ditangguhkan dan diterima pada periode berikutnya diakui sebagai utang neraca.

g.    Investasi. Investasi pada sertifikat pemerintahan Malaysia dinyatakan sebagai harga perolehan.

h.    Zakat. Zakat merupakan kewajiban yang harus dibayarkan oleh perusahaan (memenuhi prinsip syariah) atas persetujuan Dewan Pengawas Syariah.

5.    Metode Akuntansi Takaful

Operasional takaful dikenal dalam bentuk bisnis asuransi ada dua dan dikelola dalam tiga jenis pengelolaannya.

1.    Akuntansi dana takaful keluarga.

2.    Akuntansi dana takaful umum

3.    Akuntansi dana pemegang saham

Laporan keuangan dari masing-masing jenis takaful tersebut disajikan setiap laporan bulan atau laporan tahunan.

1.    Akuntansi Dana Takaful Keluarga (Asuransi Jiwa)

Dana takaful keluarga merupakan rekening tersendiri. Yang berkaitan dengan rekening Dana Takaful keluarga adalah sebagai berikut:

–  Buku kas

–  Tagihan harian

–  Pos peserta

–  Laporan retakaful

–  Daftar investasi

–  Daftar aktiva tetap

–  Rekonsiliasi bank

a.  Pendapatan

terdapat dua jenis pendapatan yang diperoleh dari asuransi takaful keluarga.

–       Takaful Installment/angsuran takaful. Pendapatan diakui berdasarkan “cash bases”, sehingga installment diakui sebagai pendapatan pada saat diterima dan pada saat “effective date”.

–       Pendapatan dari investasi. Pendapatan dari investasi diakui sebagai “cash bases”.

b.  Beban

beban dalam takaful keluarga terdiri dari:

–       Refund contribution (pengembalian premi)

–       Retakaful

–       Penyusutan

–       Dan lain-lain

c.  Laporan Keuangan

laporan keuangan untuk takaful keluarga disajikan pada laporan keuangan.

–       Neraca

–       Laba rugi untuk family Takaful Plans

–       Arus dana

–       Laba rugi untuk “Group Family”

–       Pos penghasilan

2.    Asuransi Takaful Umum (Asuransi kerugian)

Yang berkaitan dengan akuntansi takaful umum adalah sebagai berikut :

–       Buku Kas

–       Tagihan harian

–       Daftar Retakaful

–       Daftar investasi

–       Daftar aktiva tetap

–       Rekonsiliasi Bank

a.    Pendapatan

Terdapat dua jenis pendapatan dalam general Takaful Bussiness

–       Premi takaful.

–       Pendapatan dari investasi

b.    Beban

Beban general takaful :

–       Refund contribution

–       Retakaful outwads

–       Klaim yang disetujui dan dibayar

–       Pajak/retribusi

 

c.    Laba

laba dari general takaful fund diperoleh dari underwriting surplus dan keuntungan investasi dari dana takaful.

d.    Laporan keuangan

Laporan keuangan untuk general takaful fund disajikan pada :

–       Neraca

–       Laba rugi 

–       Pos penghasilan

3.    Akuntansi Dana Pemilik Saham

Perkiraan akuntansi dana pemilik sham ini terpisah dari dana takaful. Perkiraaan dana pemilik saham terdiri dari :

–       Buku kas

–       Daftar dana pemegang saham

–       Daftar aktiva tetap

–       Skedul investasi

–       Skedul pembiayaan

–       Laporan rekonsiliasi bank.

a.    Pendapatan shareholder’s fund diperoleh dari sumber berikut :

–       Keuntungan investasi, yaitu keuntungan dari dana takaful keluarga.

–       Bagi hasil dari dana takaful.

b.    Beban.

–       Biaya pegawai

–       Biaya pendirian

–       Biaya administrasi

c.    Laporan untuk pemilik modal disajikan pada laporan keuangan.

–       Neraca

–       Laba rugi

 

6.    Akuntansi syariah dengan akad mudharabah Dan dengan akad wakalah

a.    Akuntansi syariah dengan akad mudharabah

Dalam akad ini terdapat pemisahan pengelolaan dana antara dana pemegang saham(DPS) dengan dana peserta asuransi (DPA). Perusahaan bertindak sebagai pemegang amanah untuk mengelola kontribusi yang diterima dari peserta yang digunakan apabila di antara para peserta terjadi musibah. Di lain pihak ,peserta menyetujui Bahwa dana ynag disetor akan dikelola secara professional oleh operator. Jika pada akhir periode, peserta yang tidak mendapatkan musibah akan memperoleh bagi hasil. Dengan demikian, dalam akad ini dana yang disetorkan partisipan merupakan milik peserta, dan tidak dapat dipergunakan untuk kepentingan pemegang saham. Konsikuensinya, system akuntansi yang diterapkan harus dipisahkan antara akuntansi Dana Pemegang Saham (DPS) dengan akuntansi Dana Peserta Asuransi (DPA)

 

b.    Akuntansi syariah dengan akad wakalah.

Dalam akad ini tidak terdapat pemisahan penegelolaan dana antara pemegang saham dengan dana peserta asuransi. Perusahaan menerima dana tabarru’ dari peserta dan berhak digunakan untuk seluruh kegiatan perysahaan. Dana yang berasal dari pemegang saham dengan dana peserta dicampurkan. Sehingga, konsekuensinya, akuntansi tidak harus dipisahkan antara akuntansi dana pemegang saham dengan akuntansi dana peserta asuransi.

 

7.    CASH BASES DAN ACCRUAL BASES

Persoalan kontroversi yang dalam system akuntansi syariah yang sampai saat ini masih belum selesai adalah persoalan pengakuan pendapatan, penganut cash basis dan akrual basis.

Yang dimaksud dengan cash basis di sisni adalah pendapatan premi diakui saat polis ibayar tunai, dan biaya tetap dicatat secara accrual. Sedangkan ,accrual bases adalah pendapatan premi sudah diakui pada saat penerbitan polis, dan biaya tetap dicatat secara accrual.

 

Penganut cash basis berpendapat, sebagai konsekuensi aplikasi akad mudharabah, maka secara syar’I pengakuan pendapatan harus dilakukan secara cash bases, artinya pendapatan premi diakui saat polis telah dilakukan pembayaran tunai kepada perusahaan. Dan ini sangat relevan dengan penerapan bagi hasil, karena perhitungan bagi hasil diberikan dengan mengacu kepada perhitungan mulai sejak polis asuransi dibayarkan.

Di lain pihak, penganut accrual basis tetap berpendapat bahwa prinsip yang dianut tidak melanggar aturan syar’I, baik cash maupun accrual memenuhi ketentuan syariah. Berdasarkan system akuntansi konvensional, premi asuransi diakui sebagai pendapatan sebagaimana tanggal penerbitan polis .

Dalam asuransi, perbedaan yang paling mendasar antara akuntansi asuransi syariah dengan akuntansi asuransi konvensional adalah penggunaan cash basis atau accrual basis. Pada akuntansi asuransi syariah lebih cendrung menggunakan cash basis daripada acrual basis,dengan pertimbangan-pertimbangan syar’i. system accrual bases dianggap bertentangan dengan syariah karena telah mengakui adanya pendapatan, harta, beban, tau utang yang akan terjadi di masa yangbkana datang. Padahal yang akan terjadi tersebut, belum benar-benar terjadi, bisa terjadi dan bisa tidak terjadi. Apa yang akan terjadi dimasa yang akan datang hanya Allah yang mengetahui.

Mohammad Arif Abdul Rasyid mengatakan bahwa berdasarkan praktik akunting takaful, semua angsuran takaful juga keuntungan atas investasi dan pendapatan dianggap sebagai pendapatan hanya setelah kas actual sudah diterima perusahaan.

Sebagai contoh,premi asuransi benar-benar diakui sebagai pendapatan jika uangnya sudah diterima secara tunai. Sedangkan,pada asuransi konvensional premi asuransi diakui sebagai pendapatan meskipun premi asuransi belum dibayarkan. Pada sisi llain dalam pengakuan sebagai pendapatan, surplus dari dana investasi hanya dapat diakui sebagai pendapatan setelah terjadi bagi hasil antara peserta dan perusahaan. Hal ini tentu berbeda dengan asuransi konvensional di mana surplus dari investasi dapat langsung ditransfer ke rekening pemegang saham sebagai pendapatan.

Konsep akuntansi yang diterapkan pada asuransi konvensional adalah accrual bases yaitu suatu proses akuntansi untuk mengakui terjadinya peristiwa atau keadaan non kas. Accrual basis mengakui pendapatan dan adanya peningkatan yang terkait dengan asset dan beban serta adanya peningkatan yang terkait dengan utang dalam jumlah tertentu yang kan diterima atau dibayar dalam bentuk kas di masa yang akan datang.

 

4 thoughts on “Tugas Makalah – AKUNTANSI ASURANSI SYARIAH

  1. Selamat ya , sharing atas tugas akhirnya ini InsyaAllah membawa kebaikan buat Siti karena bisa dimanfaatkan orang banyak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s